Nama  : FIQI ZUWAN ADITAMA

NIM    : F14100135

Laskar : 11

Assalamualaikum Wr.Wb. Saya akan bercerita mengenai kehidupan seseorang. Dia adalah mas Faqih, lelaki muda berbadan tegap dan berpostur tinggi. Dia adalah keturunan suku jawa. Dirinya adalah seorang penjaga masjid atau biasa disebut marbot.

Dia adalah orang yang menjaga masjid yang berada disekitar rumah saya. Dia telah mulai menjadi penjaga masjid sejak tahun 2003. Tugasnya sebagai penjaga masjid adalah mengumandangkan adzan, membersihkan masjid, dan tentu saja menjaga keamanan di masjid tersebut.

Saat saya Tanya mengapa dia memilah menjadi penjaga masjid, dia kemudian tersenyum lalu mengatakan bahwa dia merasa senang dapat menjadi seorang penjaga masjid. Dirinya senang karena dapat mengumandangkan adzan sehingga orang – orang tahu bahwa waktu shalat telah tiba. Ia juga dapat membersihkan rumah Allah SWT. Itu adalah pekerjaan yang sangat mulia di matanya.

Kemudian saya bertanya mengenai uang yang ia peroleh dari hasil menjaga masjid. Dia kembali tersenyum kemudian mengatakan uang tidaklah penting baginya. Yang penting dirinya bias mendapatkan sesuap nasi untuk hidup saja itu sudah cukup.

Di Lebaran tahun 2010 ini, ia tidak mudik ke kampung halamannya. Dia lebih memilih menjaga masjid yang akan menjadi sepi karena kebanyakan warga sekitar memilah mudik ke kampung halamannya masing – masing. Saya gemetar mengetahuinya, karena ia rela mengorbankan bertemu dengan keluarganya yang telah lama tidak bertemu demi untuk menjaga masjid.

Dari kisah mas Faqih tersebut, saya merasa amat bangga pada dirinya. Karena ia lebih memilih menjadi hamba Allah SWT yang menjaga masjid daripada mengejar kekayaan dunia. Tekadnya menjaga masjid mengingatkan saya agar lebih rajin beribadah. Semoga cerita tersebut dapat menjadi inspirasi bagi yang membacanya. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Nama  : FIQI ZUWAN ADITAMA

NIM    : F14100135

Laskar : 11

Assalamualaikum Wr.Wb. Disini saya akan menceritakan salah satu kisah pada hidup saya. Saya harap kisah yang saya ceritakan ini tidak membosankan dan dapat menjadi inspirasi bagi yang membacanya.

Kisah saya ini bercerita tentang perjuangan saya dalam upaya untuk diterima di perguruan tinggi negeri. Saya hanya ingin melanjutkan jenjang pendidikan saya di PTN saja, saya tidak ingin melanjutkan di PTS. Hal ini dikarenakan perekonomian keluarga saya yang kurang mampu, sehingga orang tua saya tidak akan mampu bila membiayai kuliah saya di PTS.

Saya tahu tidak mudah untuk bisa diterima di PTN, karena begitu banyaknya saingan dari deluruh negeri. Untuk itu saya harus mempersiapkan diri dengan sungguh – sungguh. Agar saya dapat diterima di PTN dan tidak terlalu membebani orang tua saya.

Saya belajar dengan sungguh – sungguh dimanapun. Baik di sekolah maupun di rumah. Bila menemui pelajaran yang tidak saya pahami maka saya menanyakannya kepada teman saya yang lebih paham. Saya pun berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menjalankan usaha saya. Tak lupa saya pun memohon didoakan oleh orang tua dan orang – orang da sekitar saya. Karena makin banyak yang berdoa maka makin besar pula kemungkinan untuk dikabulkan.

Akhirnya tibalah waktunya , berbagai macam ujian saya ikuti agar kemungkinan diterima di PTN makin besar. Saya berusaha menyelesaikan soal dengan sebaik – baiknya tak lupa saya memohon kepada Allah SWT agar siberikan hasil yang terbaik untuk saya. Tak sabar saya menunggu pengumuman karena lamanya waktu antara waktu ujian dengan waktu pengumuman.

Tibalah saat pengumuman ujian – ujian tersebut. Waktu pengumuman ujian saling berbeda – beda antar ujian yang satu dengan ujian lainnya. Saya sangat berharap dengan pengumuman tersebut. Ternyata saya dinyatakan gagal pada setiap ujian yang saya ikuti. Saya sangat kecewa saat itu. Saya tidak percaya jika tidak ada satupun pengumuman yang menyatakan saya berhasil.

Saya amat merasa putus asa dengan semua itu. Seakan – akan semua jerih payah saya selama ini terbuang sia – sia. Namun, orang tua saya terus berusaha menghibur saya. Mereka mengatakan mungkin Allah SWT telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk saya.

Berkat support dari orang tua saya, saya kembali percaya diri lagi. Saya memutuskan untuk mengikuti ujian terakhir yakni, SNMPTN. Setelah menywlesaikan ujian tersebut, saya menunggu hasil pengumumannya. Saya berdoa kepada Allah SWT memohon agar saya dapat diterima di PTN. Tibalah saat pengumuman, Ternyata doa saya terkabul, saya dinyatakan diterima di IPB. Saya sangat senang sekali mengetahuinya karena akhirnya saya diterima di PTN. Saya bersyukur tidak menyerah saat saya gagal. Karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi apabila waktu itu saya menyerah. Sekian cerita inspirasi dari saya, semoga dapat menjadi inspirasi bagi yng membacanya. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Search
Archives